Minggu, 05 Desember 2010

KOMUNITAS (EKOLOGI TUMBUHAN)


Oleh. Alit Adi Sanjaya

Pengertian Komunitas
Komunitas dalam arti ekologi mengacu kepada kumpulan populasi yang terdiri dari spesies yang berlainan, yang menempati suatu daerah tertentu (Ngurah Rai, dkk. 1999). Setiap komunitas tidak harus menempati daerah yang luas, artinya komunitas dapat mempunyai ukuran berapa pun. Misalnya dalam  suatu aquarium yang terdiri dari ikan, siput, hydrilla sebagai komponen biotik, serta air, bebatuan sebagai komponen abiotik dapat disebut sebagai suatu komunitas. Komunitas tumbuhan di daerah trofik biasanya bersifat rumit dan tidak mudah diberi nama menurut satu atau dua spesies yang paling berkuasa sebagaimana yang umum di daerah yang beriklim sedang.
Irwan (2003), lebih lanjut menjelaskan komunitas sebagai kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Komunitas memiliki derajat keterpaduan yang lebih kompleks bila dibandingkan dengan individu dan populasi. Komunitas pada prinsipnya terbentuk dari berbagai hasil interaksi di antara populasi-populasi yang ada (Arif, 2009). Di alam terdapat bermacam-macam komunitas. Komunitas ini dapat dibagi dalam dua bagian yaitu komunitas akuatik (lautan, danau, sungai dan kolam) dan komunitas terestrial (hutan, padang rumput, padang pasir, dan lain-lain.)
Muchtar (2009), menjelaskan komunitas sebagai kumpulan dari berbagai populasi yang hidup pada suatu waktu dan daerah tertentu yang saling berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Komunitas memiliki derajat keterpaduan yang lebih kompleks bila dibandingkan dengan individu dan populasi. Dalam komunitas, semua organismee merupakan bagian dari komunitas dan antara komponennya saling berhubungan melalui keragaman interaksinya.
Dalam tingkatan komunitas ciri, sifat dan kemampuannya lebih tinggi dari populasi misalnya dalam hal interaksi. Dalam komunitas bisa terjadi interaksi antar populasi, tidak hanya antar individu atau spesies seperti pada populasi. Hubungan antar populasi ini menggambarkan berbagai keadaan yaitu bisa saling menguntungkan sehingga terwujud suatu hubungan timbal balik yang positif bagi kedua belah pihak (mutualisme). Sebaliknya bisa juga terjadi hubungan salah satu pihak dirugikan (parasitisme) (Arif, 2009).
Apabila suatu komunitas sudah terbentuk, maka populasi-populasi yang ada haruslah hidup berdampingan atau bertetangga satu sama lainnya. Dalam biosistem komunitas ini berasosiasi dengan komponen abiotik membentuk suatu ekosistem.
Ada beberapa definisi tentang komunitas yang disampaikan oleh beberapa ahli ekologi sebagai berikut (Ngurah Rai, 1999).
1.       Danseraeu
Danseraeu mendefinisikan komunitas adalah organisasi organisme secara spatial dan temporal dengan perbedaan derajat integrasi, dan yang jelas komunitas mempunyai level organisasi yang lebih kompleks dari organisme sendiri.
2.      Walter
Walter menyampaikan bahwa komunitas tumbuhan sebagai suatu kombinasi spesies yang tetap yang terdapat secara alami, dan dalam keseimbangan ekologi baik diantara tumbuhan sendiri maupun dengan lingkungannya.
3.      Oosting
Oosting membuat definisi kerja tentang komunitas tumbuhan yaitu: komunitas adalah kumpulan (aggregration) berbagai organisme hidup yang mempunyai hubungan timbal balik (mutual relationship) baik diantara mereka sendiri maupun dengan lingkungannya.
4.      Mc Nauchton & Wolf
Mc Nauchton & Wolf mendeskripsikan populasi yang terjadi bersamaan dalam ruang dan waktu, secara fungsional berhubungan satu sama lain membentuk unit ekologi yaitu komunitas.
5.      Odum
Odum (1993) mendeskripsikan tentang komunitas biotik sebagai kumpulan populasi apa saja yang hidup dalam daerah atau habitat fisik yang telah ditentukan, hal tersebut merupakan satuan yang diorganisir sedemikian bahwa dia mempunyai sifat-sifat tambahan terhadap komponen individu dan fungsi-fungsi sebagai suatu unit melalui transformasi-transformasi metabolik yang bergandengan. Dalam penjelasan selanjutnya disampaikan bahwa komunitas merupakan istilah yang luas yang dapat digunakan untuk kumpulan-kumpulan alami dari berbagai ukuran mulai dari biota sebuah kayu hutan atau lautan yang luas.
Komunitas-komunitas utama adalah mereka yang cukup besar dan kelengkapan dari organisasinya adalah demikian hingga mereka relatif tidak tergantung dari masukan dan hasil dari komunitas di dekatnya. Sedangkan komunitas-komunitas minor adalah mereka yang lebih kurang tergantung kepada kumpulan-kumpulan tetangganya.
6.      Kendeigh
Kendeigh (1980), menuliskan bahwa ekologi tumbuhan berhubungan dengan kajian komunitas tumbuhan atau asosiasi tumbuhan. Satuan dasar di dalam sosiologi tumbuhan adalah asosiasi, yaitu komunitas tumbuhan dengan komposisi floristik tertentu. Bagi ahli sosiologi tumbuhan, suatu asosiasi adalah seperti suatu spesies.
Suatu asosiasi terdiri dari sejumlah tegakan, yang merupakan suatu satuan konkrit vegetasi yang diamati di lapangan. Para ahli ekologi tumbuhan mempergunakan istilah komunitas dalam suatu artian yang sangat umum, sedangkan istilah asosiasi memiliki suatu arti yang sangat khusus.

Ada tiga gagasan utama yang terlibat dalam definisi komuniats (Ngurah Rai, 1999):
a.       Sifat minimum komunitas adalah hadirnya bersama beberapa spesies dalam suatu daerah.
b.      Bahwa komunitas menurut beberapa ilmuwan adalah kumpulan kelompok spesies yang sama terjadi berulang dalam ruang dan waktu. Ini berarti bahwa ada “tipe komunitas” yang memiliki komposisi relatif tetap.
c.       Ada sementara ilmuwan yang mengatakan bahwa komunitas memiliki kecenderungan menuju ke arah stabilitas dinamik, dan bahwa keseimbangan ini cenderung dipulihkan jika terganggu, jadi komunitas menunjukkan homeostasis.
Nama komunitas harus dapat memberikan keterangan mengenai sifat-sifat komunitas tersebut. Cara yang paling sederhana, memberi nama itu dengan menggunakan kata-kata yang dapat menunjukkan bagaimana wujud komunitas seperti padang rumput, padang pasir, hutan jati.
Cara yang paling baik untuk menamakan komunitas itu adalah dengan mengambil beberapa sifat yang jelas dan mantap, baik hidup maupun tidak. Ringkasannya pemberian nama komunitas dapat berdasarkan :
1.    Bentuk atau struktur utama seperti jenis dominan, bentuk hidup atau indikator lainnya seperti hutan pinus, hutan agathis, hutan jati, atau hutan Dipterocarphaceae, dapat juga berdasarkan sifat tumbuhan dominan seperti hutan sklerofil
2.    Berdasarkan habitat fisik dari komunitas, seperti komunitas hamparan lumpur, komunitas pantai pasir, komunitas lautan, dan lain-lain
3.    Berdasarkan sifat-sifat atau tanda-tanda fungsional misalnya tipe metabolisme komunitas. Berdasarkan sifat lingkungan alam seperti iklim, misalnya terdapat di daerah tropik dengan curah hujan yang terbagi rata sepanjang tahun, maka disebut hutan hujan tropis.
Berbeda dengan cara diatas, Alechin (dalam Ngurah Rai, 1999), memberikan penjelasan cara menentukan komunitas dilapangan yaitu dengan cara melihat persekutuan tumbuhan yang dapat membentuk kelompok terbuka dan kelompok tertutup. Pada bentuk terbuka, orang dapat membedakan penempatan tanpa integrasi: tegakan temporal atau permanen atau komunitas, misalnya pada stand populasi campuran. Pada kelompok tertutup dalam arti terintegrasi atau terpadu. Namun konsep ini masih banyak memiliki kelemahan.
Jadi, untuk identifikasi komunitas di lapangan, konsep komunitas sedapat mungkin harus tidak terbatas. Untuk identifikasi semua level skala geografi cukup memakai dasar variasi dalam homogenitas atau uniformitas penutup vegetasi, dimana variasi ini cukup jelas dengan penglihatan atau visual (Ngurah Rai, 1999).
Lebih lanjut Ngurah Rai (1999), menjelaskan bahwa ada dua pengertian komunitas, yaitu komunitas konkrit dan komunitas abstrak. Komunitas konkrit adalah konsep komunitas yang mengacu kepada tegakan/ stand tumbuhan yang nyata terdapat di lapangan. Sedangkan komunitas abstrak merupakan konsep komunitas yang memiliki bentuk asosiasi dan sosiasi.

Pandangan-Pandangan terhadap Komunitas
Pada dasarnya ada dua pandangan tentang komunitas tumbuhan yang saling bertentangan yang sering dijumpai.
1.    Kelompok sarjana yang berpandangan bahwa komunitas tumbuhan adalah unit-unit dengan karakteristik sosiologi. Sehingga mereka memakai istilah sosiologi tumbuhan atau Phytocoenology untuk memberi batasan ilmu yang berkaitan dengan komunitas tumbuhan. Ada juga yang menganggap bahwa komunitas tumbuhan seperti “organismee”, dan ada yang memandang sebagai unit yang lebih kompleks yang terdiri dari beberapa lapisan komunitas yang disebut synusiae. Berikut akan dijelaskan beberapa pandangan para sarjana mengenai komunitas tumbuhan.
a.      Clement mempunyai pandangan bahwa komunitas tumbuhan dianalogikan sebagai organisme. Komunitas tumbuhan dianggap sebagai unit kesatuan, sehingga pandangan ini juga disebut titik pandang holistik. Clement memandang komunitas tumbuhan persis seperti organismee: lahir, tumbuh berkembang menjadi dewasa, bereproduksi, dan kemudian akan mati. Proses perkembangan suksesi mulai dari perkembangan stadia pioner sampai stadia klimaks stabil dianggap menggambarkan dari proses lahir sampai dewasa. Sudah tentu padangan ini ada kelemahannya, yaitu mati atau hilangnya komunitas sesungguhnya tidak bisa disamakan dengan matinya organisme yang kehilangan fungsi organnya, tetapi matinya komunitas, artinya digantinya sebagian atau keseluruhan oleh populasi yang baru oleh karena adanya perubahan lingkungan.
b.      Braun-Blanquest, juga berpandangan analogi organisme, sehingga aspek klasifikasi komunitas serupa dengan organisme yang diklasifikasikan ke dalam kelompok taksonomi. Komunitas tumbuhan dapat disamakan dengan spesies, dan komunitas dapat dipandang sebagai unit dasar klasifikasi vegetasi, karenanya Braun-Blanquest mempunyai titik pandang sistematik. Beberapa sarjana menekankan adanya diskontinuitas diantara komunitas tumbuhan, sedang lainnya menekankan adanya kontinuitas dan bentuk transisi dalam vegetasi.
               Tekanan pada diskontinuitas menganggap bahwa komunitas masing-masing jelas terpisah satu sama lain, sehingga setiap komunitas dapat dikelompokkan dalam sistem klasifikasi. Dalam hal ini tiap komunitas dapat diidentifikasikan sebagai anggota tipe komunitas tertentu karena adanya spesies karakter yang ditafsirkan sebagai spesies kunci. Tetapi ini ada kelemahnnya, karena spesies kunci ini akan kehilangan nilai diagnosanya kalau kajian komunitas diperlukan di luar batas regional aslinya.
               Tekanan pada kontinuitas menganggap komunitas tumbuhan bersifat dinamik sehingga lebih menggangap adanya kontinuitas dalam ruang dan tidak ada batas mutlak antara komunitas yang berdekatan. Ajaran ini dikenal sebagai ajaran kontinum atau ajaran Wisconsin.
2.    Kelompok kedua berpandangan bahwa tumbuhan secara individual adalah sebagai satu-satunya unit yang nyata di alam. Komunitas tumbuhan, dimana tumbuhan individu hidup bersama, menurut paham ini tidak dapat secara jelas ditentukan sebagai unit. Salah satu pendukung dari pandangan ini adalah Gleason yang mengajukan konsep komunitas tumbuhan yang disebut sebagai konsep individualistik komunitas tumbuhan. Menurut pandangan ini penutup vegetasi dipandang sebagai bentuk kontinum, yang berarti komunitas itu terdiri dari kombinasi tumbuhan yang berubah secara kontinu.
Gleason menganggap benar bahwa komunitas tumbuhan eksestensinya tergantung pada kekuatan selektif lingkungan tertentu, dan lingkungan berubah secara tetap dalam ruang dan waktu. Karenanya, menurut pandangan ini tak ada dua komunitas yang serupa atau mempunyai hubungan yang erat, dan masing-masing bersifat individualistik.
 Walter mempunyai pandangan yang terletak diantara dua pendapat di atas. Pemunculan kelompok tanaman serupa atau kombinasi spesies serupa dalam habitat serupa hampir tidak dapat diingkari. Ini berarti komunitas nyata dapat dikenal, dan dengan demikian dapat dikaji. Komunitas sedemikian dapat dengan mudah ditentukan batasnya pada tiap batas yang berbeda.
Secara lebih sederhana Barbour et al.,1987 (dalam Ngurah Rai, 1999) mengelompokkan pandangan terhadap komunitas menjadi dua yakni (1) Pandangan Organismik, dan (2)  Pandangan Kontinum.  Pandangan organismik menyatakan spesies dalam asosiasi mempunyai batas distribusi serupa sepanjang aksis horizontal, dan banyak dari mereka muncul sampai melimpah secara maksimal pada titik sama (noda). Ekotom (batas) antara asosiasi yang berdekatan adalah sempit, dengan sangat sedikit adanya tumpang tindih pada kisaran-kisaran spesies, kecuali untuk beberapa taksa umum yang didapatkan dalam banyak asosiasi. Pandangan kontinum menyebutkan bahwa tidak adanya bentuk dominan taksa tunggal, dan juga hadirnya dan kelimpahan kelompok spesies tidak berubah secara tajam sepanjang gradien lingkungan, oleh karena itu noda-noda tidak diketemukan.
Adanya gambaran tentang perbedaan dalam komunitas vegetasi/ komunitas akibat adanya perubahan floristik komunitas tumbuhan yang berkaitan dengan unidireksional dalam kalimat.












Berdasarkan gambar di atas, gambar A adalah menunjukan perubahan ideal dalam penutupan tumbuhan dalam bentuk kontinum. Dalam bentuk ini batas komunitas sulit ditentukan. Situasi D menggambarkan keadaan lain secara ektrim. Di sini komunitas tumbuhan terpisah secara tajam, dan penutup gambar dalam bentuk trap/ undangan tanpa zona transisi. Bentuk ekstrim demikian ini tak pernah atau sangat jarang ada di alam.
Kondisi di alam mirip situasinya seperti bentuk B dan C, karena mereka terpisah zona transisi lebih pendek, sedangkan situasi B zona transisi lebih panjang dari komunitasnya sendiri.
Perubahan gradual mikroklimat, jelas tidak menyebabkan perubahan komunitas secara mendadak, tetapi umum terdapat daerah transisi sehingga bersifat kontinu. Jika iklim berubah pada jarak relatif pendek, seperti yang terjadi pada lereng gunung, dan jika komunitas tumbuhan masing-masing ditentukan oleh spesies dominan, maka daerah transisi komunitas sangat jelas.
Berdasarkan pandangan individualistik, komunitas tumbuhan terdiri dari kelompok tumbuhan yang masing-masing mempertahankan individualitasnya. Namun adanya individualitas tumbuhan bukan berarti menghambat adanya hubungan tertentu diantara tumbuhan dalam komunitas. Hubungan ini menurut  Walter digolongkan dalam tiga kelas yaitu :
1.        Pesaing Langsung (Direct Competitors), terjadi persaingan terhadap sumber daya lingkungan yang sama karena menempati strata atas maupun bawah dalam suatu lahan yang sama.
2.        Spesies Dependen (Dependent Species), spesies yang hanya dapat hidup pada niche tertentu hanya dengan hadirnya tumbuhan lain. Sebagai contoh tumbuhan lumut yang hanya dapat tumbuh pada kondisi mikroklimat tertentu yang dihasilkan oleh tegakan pohon.
3.        Spesies Komplementer (Compementary Species), spesies yang tidak saling bersaing dengan spesies lain karena persyaratan hidup cukup berhasil/ puas dengan menempati strata yang berbeda atau dengan ritme musiman yang berbeda.

Klasifikasi Komunitas
Odum, 1993 (dalam Ngurah Rai, 1999), menyampaikan bahwa komunitas dapat disebut dan diklasifikasikan menurut:
 (1) Bentuk atau sifat struktur utama, misalnya jenis dominan, bentuk-bentuk hidup atau indikator-indikator,
(2)  Habitat fisik dari komunitas, atau
(3) Sifat-sifat atau tanda-tanda fungsional seperti misalnya tipe metabolisme komunitas.
Tidak ada peraturan yang pasti untuk penamaan komunitas yang telah dirumuskan, seperti yang telah diperbuat untuk penamaan atau pengklasifikasian organismee. Klasifikasi yang didasarkan pada sifat-sifat struktural agak spesifik untuk lingkungan tertentu, tetapi usaha-usaha untuk membuat klasifikasi yang bersifat universal berdasarkan dasar ini sebagian besar belum memuaskan. Sifat-sifat fungsional memberikan dasar yang lebih baik untuk membandingkan semua komunitas dalam habitat yang sangat berbeda, misalnya daratan, laut, atau air tawar.
   Klasifikasi komunitas yang dilakukan oleh Whittaker bersifat hirarki, tingkat tertinggi adalah pembagian dari vegetasi dunia ke dalam kategori fisiognomi yang dapat dikenal atau bioma, yang distribusinya terutama diatur oleh pola iklim global. Bioma tak dapat dikenal dengan komposisi jenis, sebab berbagai jenis biasanya dominan di berbagai bagian dunia. Suatu klasifikasi tingkat terendah dari bioma terestrial berdasarkan suhu dan curah hujan. Holdridge dan sejawatnya, 1971 (dalam Ngurah Rai, 1999), telah menyusun suatu skema yang lebih terinci, yang dikembangkan terutama untuk klasifikasi hutan-hutan tropika. Metode Holdridge menggunakan variabel iklim yang lebih kompleks dan mencakup gradasi lintang dan elevasi. Klasifikasi Holdridge menunjukkan bioma dengan jumlah yang lebih besar pada lintang yang lebih rendah dan hal ini mungkin saja menyebabkan keanekaragaman regional yang lebih besar di daerah tropika.
   Suatu metode klasifikasi pelengkap adalah klasifikasi bentuk hidup (growth form), yang mengkategorikan tumbuhan menurut pola pertumbuhan dan pola perkembangbiakannya. Sistem Raunkiaer yang didasarkan atas jaringan/organ bertahunan (perenneting tissue) bervariasi terhadap lintang.
   Unesco (1973) dan Elten (1968) membuat klasifikasi tipe vegetasi yang didasarkan pada persentase kehadiran herba, perdu dan pohon disuatu bentuk vegetasi. Metode ini tidak membuat klasifikasi dari dunia tumbuhan tetapi langsung menganalisis bentuk atau tipe vegetasi di suatu kawasan didasarkan pada penutupan perdu dan pohon, juga bisa diperhitungkan pula penutup herbanya.
   Hasil akhir bentuk vegetasi diklasifikasikan dalam:
Vegetasi (semi) alami
Vegetasi binaan
-       Hutan padat/ rapat
-   Hutan tanaman
-       Hutan renggang
-   Perkebunan
-       Hutan sangat renggang (woodland)
-   Pertanian lahan kering (ladang)
-       Savanna
-   Sawah
-       Semak belukar

-       Vegetasi rumput


 Keanekaragaman/ Diversitas Jenis
Soetjipta, 1993 (dalam Ngurah Rai, 1999), menyebutkan ada lima ciri komunitas yang telah diukur dan dikaji adalah:
1.      Keragaman spesies, dapat dipermasalahkan spesies hewan dan tumbuhan yang manakah yang hidup dalam suatu komunitas tertentu. Deskripsi spesies semacam ini merupakan ukuran sederhana bagi kekayaan spesies atau keragaman spesies/ diversitas spesies.
2.      Bentuk dan struktur pertumbuhan. Tipe komunitas dapat diberikan dengan kategori utama bentuk pertumbuhan: pohon, perdu atau lumut selanjutnya ciri ini dapat di rinci ke dalam kategori bentuk pertumbuhan lebih kecil misalnya pohon yang berdaun lebar dan pohon berdaun jarum. Bentuk pertumbuhan ini dapat menentukan stratifikasi.
3.      Dominansi. Dapat diamati bahwa tidak semua spesies dalam komunitas sama penting menentukan sifat komunitas. Dari beratus spesies yang mungkin ada di dalam suatu komunitas, secara nisbi hanya beberapa saja yang berpengaruh mampu mengendalikan komunitas tersebut. Spesies dominan adalah spesies yang secara ekologik sangat berhasil dan yang mampu menentukan kondisi yang diperlukan untuk pertumbuhannya.
4.      Kelimpahan nisbi. Proporsi spesies yang berbeda dalam spesies dapat ditentukan.
5.      Struktur tropik. Hubungan makanan spesies dalam komunitas akan menentukan arus energi dan bahan dari tumbuhan ke herbivora ke karnivora.
     Barbour et al, 1987 (dalam Ngurah Rai, 1999) menyebutkan ada delapan sifat/atribut komunitas tumbuhan seperti tampak pada tabel di bawah ini.
1.    Fisiognom
-       Arsitek
-       Life form
-       Cover, leaf area index (LAI)
-       Fenologi
5.    Daur nutrien
-       Kebutuhan nutrien
-       Kapasitas penyimpanan
-       Laju kembalinya nutrien ke tanah
-       Efisiensi penahanan nutrien pada daur nutrien.

2.    Komposisi spesies
-       Spesies karakteristik
-       Spesies umum dan kebetulan
-       Arti penting relatif (cover, densitas dll)
6.    Perubahan atau perkembangan
-       Menurut waktu
-       Suksesi
-       Stabilitas
-       Tanggapan terhadap perubahan klimatik
-       Evolusi (?)
3.    Pola spesies
-       Spatial/ ruang
-       Luas niche dan tumpang tindih

7.    Produktivitas
-       Biomassa
-       Produktivitas bersih tahunan
-       Efesiensi produktivitas bersih
-       Alokasi produksi bersih
4.    Diversitas spesies
-       Kekayaan
-       Kerataan
-       Diversitas (dalam stand dan diantara stand)
8.    Kreasi dan pengendalian lingkungan mikro

Daftar Pustaka
(Tidak dicantumkan)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar